Home » » MENGUJI TOYOTA FORTUNER 4X4 DI MEDAN BERAT

MENGUJI TOYOTA FORTUNER 4X4 DI MEDAN BERAT

MENGUJI TOYOTA FORTUNER 4X4 DI MEDAN BERAT
By : Trybowo Laksono

Saya selalu menggemari SUV. Mayoritas mobil-mobil yang saya pilih untuk Holiday Test Drive (HTD) adalah SUV. Suzuki Vitara 2.4, Chevrolet Captiva SS, Hyundai Santa Fe 2.2 CRDi dan Mitsubishi Pajero Sport Dakar adalah beberapa mobil yang pernah saya pakai di HTD. Kenyataannya, saya pun menggunakan Honda CR-V sebagai tunggangan sehari-hari.

Tapi tahun ini ada yang berbeda dari HTD sebelumnya. Persisnya saya ingin berkemah bersama teman-teman masa kecil yang memang menyukai kegiatan adventure.

Tak hanya gunung tapi saya juga ingin berkemah di pantai. Untuk mendukung ini, maka SUV yang saya pilih adalah Toyota Fortuner 2.5 G 4x4 yang notabene berpenggerak 4 roda.

Berangkat dini hari dari rumah saya di Jatibening, Bekasi, moncong Fortuner saya arahkan ke jalur Sukabumi. Tujuannya adalah Taman Nasional (TN) Gunung Halimun Salak. Mengandalkan peta dan GPS saya melewati jalan yang cukup sempit dan penuh kelokan menuju lokasi TN. Meski begitu, medannya belum terhitung sulit sehingga mode gerak 4 roda mengunci belum saya aktifkan.

Tapi enaknya karena posisi duduk Fortuner yang tinggi, visibilitas saya sebagai pengemudi jadi sangat baik. Terutama di jalan sempit, saya jadi mudah mengawasi sekeliling bodi berkat posisi pantau semampai ini.

Tak lebih dari 5 jam saya dan teman-teman sudah sampai di lokasi kemah. Enaknya Fortuner sebagai Big SUV memberi ruang lega untuk menampung barang. Bangku baris ketiga saya lipat semua demi kargo. Tenda, kompor, cooking set, kursi lipat, 2 buah galon air mineral dan boks kontainer bisa masuk tanpa masalah. Akses masuk-keluar barang pun mudah karena bukaan pintu belakang terhitung lebar.

Puas di gunung, hari berikutnya saya menuju pantai Bayah, di sela tan Banten. Melewati rute Cikidang, Sukabumi, kali ini jalan berpermukaan aspal yang dilalui tak kalah menantang. Penuh belok an dan tanjakan-turunan yang curam. Enaknya, setir Fortuner termasuk enteng untuk saya mengolah kemudi.

Di kontur jalan seperti ini tor si mesin diesel turbo dengan in ter cooler seperti tak pernah habis. Output Fortuner tercatat 144 dk dengan torsi 350 Nm. Injak sedikit pedal gas, maka mobil melaju dengan pasti karena torsi maksimal sudah muncul di putaran 1.600 rpm.


Setelah melewati Pelabuhan Ratu, perjalanan semakin terjal menuju pantai Bayah. Tantangan sebenarnya baru dimulai ketika mencari lokasi camping di pantai Bayah yang liar tanpa pengelola.

Pisah dari jalan aspal menuju pantai memaksa saya mengaktifkan gerak 4 roda mengunci. Ilalang setinggi kap mesin pun saya terabas dengan mudah. Travel suspensi yang lentur memastikan grip ban saat melintas di permukaan jalan yang penuh lubang dan tak terlihat karena tertutup ilalang.

Mendekati bibir pantai, permukaan beralih jadi pasir gembur. Menghindari stuck, tuas transfer case saya pindah ke gerak 4 roda low range agar mobil bisa melaju pelan tapi pasti. Mode low range ini juga mencegah overspin yang malah menjebak roda karena pedal gas tak perlu saya injak untuk sekadar berjalan di kecepatan merayap.

Saya bahkan sempat 'bermain-main' dengan melaju di pasir pantai dengan mode gerak 4 roda low range ini. Luar biasa kesan yang saya dapat selama nyaris 3 minggu menggunakan Fortuner 4x4 karena saya me nemukan betapa fleksibel Fortuner untuk melaju di berbagai medan.

Pun begitu dengan efisiensi BBM. Dari total 866,9 km jarak yang saya tempuh, Fortuner mengkonsumsi 93,15 liter bahan bakar. Artinya, ia berjalan dengan kehematan 9,3 km/l. Tak buruk untuk ukuran SUV besar berpenggerak 4 roda permanen dengan mayoritas medan beragam dan muatan penuh.


T-Drive : Jenis Jalan Yang Dilalui

Salah satu fitur yang ada di Telkomsel T-Drive adalah Road Type. Fitur ini membuat Anda bisa memantau atau mengetahui jalan berpermukaan seperti apa yang sudah dilalui.

Seperti di Fortuner yang saya guna kan. Fitur ini 'melaporkan' bahwa 52% yang saya lalui adalah jalur Major yang merupakan jalan besar non tol, jalan arteri, jalan antar kota atau jalan provinsi.

Lalu 38% merupakan jalan tol dan 8% merupakan jalur Minor yang merupakan jalan kecil desa. Pa ling sedkit adalah jalan kompleks/perumahan yang persentasenya hanya 1% dari total jarak saya.

(Sumber:autobild.co.id)
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT